“10 Juta cukup?”
“Engga, segitu untuk apa?”
“Yah untuk pernikahan kita.”
“Kamu yakin hanya ada 10 Juta? Bagaimana untuk uang lamaran, mas kawin dan lain-lain?”
“Untuk maskawin bisa, tapi untuk kita berselebrasi merayakan pernikahan kita sepertinya ngga bisa.”
Kekecewaanmu muncul, kamu tak mengira dia akan memberikan pernyataan seperti itu. Uang tak cukup.
Lagipula untuk apa kita merayakannya dan mengundang semua orang yang bahkan tidak kita kenal. Dia merasa untuk merayakan sesuatu yang dibutuhkan hanya quality time dengan keluarga.
Kamu terpaku dengan angan dan angka. Sedangkan dia terpaku atas realitas dan batas. Tak ada yang salah, hanya saja kita melihat semuanya hanya sebatas materialistis.
Tinggalkan komentar