Setelah melihat wajahmu yang cantik, aku mengurungkan niatku mencintaimu. Aku dirantai perasaan pesimis, hingga aku merasa tak layak dicintai.
Setelah bercakap, kepandaianmu seperti lumba-lumba yang mampu membuat gelombang air, pintar hingga tak pernah terbayangkan. Aku mengurungkan niatku mencintaimu.
Namun, tak lama. Kamu menyatakan cinta padaku. “Aku ini apa sampai bisa dicintainya?” Pikirku ketika dirimu secara mendadak menyatakan cinta.
Kemungkinan itu ternyata tetap ada, dicintai olehnya. Kemungkinan lagi semua itu akan ada tanpa berhenti.
Tinggalkan komentar