Kudengar ada yang menyebutmu dalam sebuah gurau. Kuperhatikan dengan sesama sayup-sayup kata yang keluar dari bibir mereka. Namamu begitu indah dibibir mereka. Diriku semakin bergusar. Mendengar dan membaca sayup-sayup itu.
Tak lama, mereka diam. Tersenyum seperti akhirnya mendapat kesepakatan dalam pembicaraannya. Terlihat ada yang membawa bunga diantara mereka.
Dengan indahnya, dirimu berjalan dari lorong terlihat menuju ke arahku.
Mereka menghalangimu, dengan si pemegang bunga yang berada di tengah mereka.
Tak terlihat apa percakapan kalian. Namun, sayup kata suka terdengar.
Yang tersisa bukan sayup lagi, namun hati yang rapuh ini.
Tinggalkan komentar