Setengah Jiwa


Ketika ku lahir, jiwa ku utuh. Melihat, mendengar, dan merasakan kebersamaan sebuah keluarga di tempat yang begitu hangat bernama rumah.

Sekian tahun berjalan, ketika aku mulai memahami apa itu rumah dan jiwa yang utuh, setelah itu setengah jiwa ku pergi. Meninggalkan apa yang aku sebut rumah.

Perlahan di setiap sudut rumah ada hanya haru, meninggalkan suara yang membekas dan perasaan yang perlahan akan sirna. Hanya tersisa sedikit kenangannya.

Tahun terus berjalan, ketika kenangan tak lagi terlalu mengusik rumah, disaat aku mulai belajar ikhlas dan memahami apa kehidupan ini. Kini setengah jiwa ku tak berdaya, perlahan kehidupan ini menguras hati. Ketika tak mampu mengucapkan kata ikhlas dan hanya berharap pada kekuatan Yang Maha Kuasa untuk menyembuhkannya.

Namun setengah jiwa ku perlahan berdetak selambat mungkin, hingga aku menyadari bahwa saatnya mengikhlaskan setengah jiwa ku ini yang sudah lama berdaya.

Kini setengah jiwa ku pergi, meninggalkan apa yang kusebut rumah.

Semoga seluruh jiwaku mendapat rumah terbaiknya, hingga kelak kita akan bersama lagi menjadi jiwa yang utuh seperti sedia kala.

Tinggalkan komentar