Gambar Diri


Di sudut ruangan kafe mungil itu, terdapat cermin yang bentuknya memanjang. Dia bisa melihat dirinya dari atas kepala sampai ujung jari kaki. Cermin itu tak istimewa, hanya saja cermin itu menghisap dirinya ke dalam pantulan bayangan dirinya.

Sudah lama ia tak bercermin, sebab terakhir kali dia melakukannya, air matanya jatuh begitu deras, seakan menusuk jiwanya hingga sakit yang menyiksa pikirannya, menjadikan mentalnya begitu mudah rapuh.

Dia terpaku pada cermin itu, jarang sekali ia bisa melihat keseluruhan tubuhnya dengan lengkap. Memandang dengan keras, mata melirik begitu tajam pada setiap bagian tubuhnya.

Tak lama, dahinya mengerut, alisnya mengencang, hingga nafasnya memburu. Kepalan tangannnya melayang kearah cermin itu hingga suara kaca pecah memenuhi ruangan. Sekejap, darah menetes diantara pecahan kaca yang terpencar. Jemarinya berdarah, wajahnya menahan rasa sakit. Namun selang waktu kemudian, ia tersenyum.  Menatap kearah cermin dengan wajah sinis ia berkata.

“Aku akan lebih baik dari dirimu sekarang, matilah diriku yang dulu”

Tinggalkan komentar