Jurang Malu


Malu adalah pakaian yang kukenakan saat bertemu denganmu.

Sebab di tanganku, tak ada kilau perhiasan—

tak ada yang bisa kutaburkan, seperti yang dihiasi para tetangga.

​Di sini, aku merancang kebahagiaanmu;

mencari cara untuk membeli petak harapan, mendirikan atap yang kokoh,

mempersembahkan kilaunya, dan menempuh jalan bersama.

​Lisanmu tak pernah bilang tak bahagia di sisiku,

namun setiap malam, saat suara kita bersua,

selalu terselip daftar panjang,

tentang harta yang orang lain genggam.

Ketahuilah, aku mengusahakan segalanya.

​Namun di antara seluruh usaha itu,

tak sedikitpun aku mengharapkanmu.

Tinggalkan komentar