Sakura Story

Kisah dan Puisi yang Bersemi dalam Sakura

prosa

  • Lari

    Kuniatkan lari demi datang kepelukanmu, lebih cepat setiap harinya walaupun hanya sedetik. Tak apa, terpenting dirimu menungguku di garis finish, menyambutku dengan pelukan hangat dan bangga. Read more

  • Terkadang Kita

    Harus mengerti walaupun tidak dimengerti. Harus meminta walaupun tidak diberi Harus tersenyum walaupun tidak bahagia. Harus menolong walaupun tidak pernah tertolong. Terkadang kita harus memaksa diri untuk biasa walaupun banyak keadaan yang luar biasa. Read more

  • Apalagi

    Yang harus kutulis untukmu, aku telah memuji banyak hal tentangmu di tulisanku. Kamu, kamu, dan kamu. Semua yang kutulis hanya untukmu dan tentangmu. Apalagi yang harus kuceritakan tentangku, begitu mendengarnya kamu langsung tertidur bahkan jadi jelita dengan tertutupnya matamu dan senyummu yang begitu tulus Apalagi… Read more

  • Pinjam dulu ya

    Senyummu itu, perlahan mengikatku. Menarik ulur hatiku yang sedang kau genggam itu. Aku melayang oleh senyummu, romansa tiap hari terbayang. Seandainya aku bisa meminjamnya, senyummu akan kukembalikan nanti. Saat waktu sudah menimbunmu, kelak nanti senyummu hidup dimana-mana. Read more

  • Masih lanjut

    Ngomongin cita-cita, mens search for meaning. Apa artinya jika aku tak punya tujuan, tak punya arah, hanya mengambang ditiup angin dan terhanyut dalam air hingga menyangkut dalam rawa yang isinya penuh dengan sampah. Read more

  • Aduh

    Aduh aku sampai lupa dengan ini. Katanya ini cita-cita ternyata cuma mimpi. Susah ya ternyata kalo banyak keinginan. Aduh, saking capeknya tahun kemarin aku sampai lupa mengetik sumpah serapah terhadap kejadian-kejadian yang memuakkan. Untungnya, aku punya kekasih. Read more

  • Takut Mati

    Mati tak dihindari, sebagaimana kematian adalah hal yang pasti dalam makhluk hidup. Aku akan mati, kamu akan mati, dia akan mati dan mereka pun akan mati. Pertanyaanku, mengapa takut mati? Kenapa banyak yang takut akan kepastian tersebut, bukankah seharusnya kita butuh kepastian? Apa karena kepastian itu datangnya mendadak? Atau apakah justru kita takut akan yang Read more

  • Dicintai Tuan

    Segala yang dibenci dilakukan, membuktikan bahwa Tuan tidak pilkasih. Sebab, ia seringkali terlihat mencintai yang lain daripadaku. Biasanya tuan selalu memberiku sedikit pelajaran dan pengertian atas perbuatanku, namun kini Tuan acuh. Ia bersikap seolah sudah lelah memberiku makan sebab aku tak pernah kenyang dan selalu meminta lagi. Aku bertanya “Tuan, mengapa engkau tak lagi memperhatikanku? Read more

  • Jurang Malu

    Malu adalah pakaian yang kukenakan saat bertemu denganmu. Sebab di tanganku, tak ada kilau perhiasan— tak ada yang bisa kutaburkan, seperti yang dihiasi para tetangga. ​Di sini, aku merancang kebahagiaanmu; mencari cara untuk membeli petak harapan, mendirikan atap yang kokoh, mempersembahkan kilaunya, dan menempuh jalan bersama. ​Lisanmu tak pernah bilang tak bahagia di sisiku, namun Read more

  • Terbenam

    Apakah ini saatnya untuk terbenam? Bulan memintaku pergi agar malam bisa menemaninya. Padahal aku yang bikin cahaya bulan begitu bersinar, tapi memang aku ga boleh untuk tetap ada. Nanti kamu yang akan menghilang, kalau gitu aku aja yang terbenam. Read more