Short Story
Full of short story content
-
Hanya untuk merindu saja, bahkan aku harus menderita. Hidup dengan rindu rasanya sedikit membuat mual. Yang kusuka di rindu hanya bagian cintanya saja, sisanya membuatku hampir mati. Seandainya aku tak menyukai cinta, bahkan aku enggan untuk merindu. Dalam detik jam yang berlalu, rindu berdetak seperti aliran darah yang mengalir. Begitu menggebu dan menimbulkan rasa sesak. Read more
-
Dalam diam ku berusaha melupakanmu, kuharap kaupun begitu. Terkekang dalam ingatan manis, namun teriris dengan tangis. Ingin ku melupakanmu. Dalam senyum aku merengut heran, tatkala aku melupakanmu. Heran dalam ingatan yang seakan melawan angan dengan kenangan. Sudahlah, melupakanmu sama saja aku akan terus mengingatmu dalam pikiran dan sanubariku. Read more
-
Yah, bisa dibilang keduanya. Soalnya bukan hanya kata-kata saja yang melampiaskannya. Tapi semua berakhir dengan sikap. Bagaimana Aku merindumu itu tidak penting, ataukah Aku mengucapkannya baru itu penting? yang penting kan Aku merindumu. Aku setiap hari merindumu, tapi Aku ngga mengungkapkannya kepadamu. Biarkan angin berhembus yang tanpa disadari sudah menyejukkan hidupmu. Read more
-
Engkau sejenak menghilang dari pikiranku, aku bahkan tak ingat lagi wajahmu. Aku hanya berusaha untuk mengingatmu yang membuatku mencintaimu. Aku masih mencintaimu dalam rindu yang menghilang, rindu yang takkan mengembalikan wajahmu kembali. Apakah aku keliru tentang perasaan ini? Atau aku hanya terlalu merindumu? Kembalilah ke dalam ingatanku. Read more
-
Rinduku berubah menjadi tangis, air mataku menandakan seberapa rinduku padamu. Kala air mataku turun deras, rinduku sudah tak terbendung. Air mataku jatuh, tatkala aku sedang memikirkanmu, merindukanmu dan mencintaimu. Bahkan air mataku kini menjadi suci karena mengandung cinta dan rinduku yang amat dalam. Read more
-
Ia memberikan surat setiap harinya, surat yang abadi, penanda cinta-Nya. Aku, tidak sadar akan kasih dan sayang-Nya. Hingga surat-surat itu tak pernah kubaca. Bahkan aku hampir melupakannya. Tapi, pada akhirnya aku membaca surat-surat itu, surat penanda, petunjuk, cinta dan kasih sayang. Hati melemah, menyesali bodohnya diriku yang tak pernah mencintai-Nya balik. Read more
-
Ah, andai saja kita bisa berjumpa setiap waktu. Aku geram dengan jarak yang memisahkan ini. Aku ingin dekat denganmu, memegang tanganmu, sembari bercakap tentang harapanmu. Aku merindu, namun tak mampu menepis apa yang menjadi penghalang ini. Aku merindumu dalam suara angin yang menghembus di telinga. Aku merindumu sebab, berpisah denganmu adalah neraka bagiku. Read more
