Sakura Story

Kisah dan Puisi yang Bersemi dalam Sakura

Short Story

Full of short story content

  • Pintu Rumah

    *tok tok* Aku mengetuk pintu rumahmu, berharap engkau membukanya dan memberi senyummu. *tok tok* Aku berharap kali ini engkau membukanya dan memberiku sedikit senyum manismu. *tok tok* Ini yang terakhir, aku berharap engkau membukanya dan memberiku senyum. Read more

  • Kacamata

    Terlihat jelas kini, pandanganku terhadapmu. Yang kian hari semakin jelas semakin buruk. Kulihat kebohonganmu, kulihat kepiawaianmu dalam menusuk hati makhluk. Terlihat air matamu yang mengering, memohon padaku untuk tetap. Tidak, meskipun kau mengerang dan mengaum padaku, takkan goyah hatiku. Karena semua sudah terlihat jelas. Read more

  • Layar

    Bersinar terang, memancarkan bagaimana harusnya aku bekerja. Menekan tombol-tombol pintasan rupanya tak membuat pekerjaan lebih mudah ataupun lebih cepat. Aku kembali menatap layar, muncul sebuah pop-up notifikasi tambahan pekerjaan. “Yasudahlah, aku harus bekerja bagaimanapun juga” Aku berkata dalam hati. Mungkin memang ini yang harus kulakukan, menatap layar 24/7. Read more

  • Terlambat

    Disaat semua berjalan lebih baik, aku terlambat menyadari. Menyadari bahwa kamu yang membuat semuanya menjadi baik. Kini kamu pergi, meninggalkan sisa-sisa kebaikan yang kamu tuai. Kini, aku merindukanmu. Seandainya aku bisa membuat hidupmu lebih baik juga. Read more

  • Pesimis

    Bagaimana aku bisa memberimu kebahagiaan, jika hidup ini diambang ketidakpastian. Takut mengecewakan hidupmu yang sudah baik, takut membuatmu sakit dikala hidupmu sedang baik-baiknya, dan aku takut hidupmu menjadi semakin tidak baik. Walaupun kau ingin bersamaku, kumohon jangan. Aku hendak membiarkanmu mendapatkan yang lebih baik dariku. Jika dirimu merasa lebih baik bersamaku, maka aku akan bertanya Read more

  • Wink

    Siapa yang tak meleleh melihatmu melakukannya? Aku heran, aku jadi deg-degan setelah melihatnya. Masa iya cintaku semakin besar karena kamu seperti itu. Tolong, jangan berhenti yah. Aku suka walaupun membuat jantungku berdegup tak karuan. Tapi, makasih yah sudah memberiku kebahagiaan. Read more

  • Terlelap

    Langit menghitam, titik berkilau bermunculan. Aku sedang menunggumu hadir didalam hidupku. Sepi menyapa, aku seorang diri tak kuasa diselimuti rasa pekat dari sepi. Mata memerah, badan terasa lemas. Sudah tak sanggup diriku menahan rasa itu semua. Bisakah aku melupakan perasaan itu? Read more

  • Takut Untuk Menetap

    Aku mencintaimu, tapi aku harus pergi. Perahy ini harus berlayar kembali. Jika diam, angin mengombang-ambing perahu ini. Lebih baik kita bergerak dan berpisah. Tinggalkan perahu ini, dan kita saling berlayar dengan perahu yang berbeda. Karena, aku takut bersamamu. Aku takut tak bisa berlayar bersama ke arah yang kita tuju. Aku hanya takut untuk menetap. Read more

  • Tangis

    Aku melihatmu merenung di meja kerjamu. Ku tanya “Ada apa?” Sejenak dirimu diam, lalu melihat ke arahku. Air matamu mengalir, aku bingung. Aku menepuk pundakmu, seakan berkata ‘menangislah’. Semakin tak terbendung air matamu, lalu kamu bercerita dengan isak tangismu. Aku mendengarkan, menghapus air matamu. Read more

  • Ingatan

    Apa kamu ingat? Apa aku ingat? Atau jangan-jangan kita tidak mengingatnya? Aku ingat saat memayungi-mu dikala kita berjalan sembari bercerita tentang masa lalumu. Kamu ingat saat kamu memberikanku sedikit cemilan berupa susu dan pisang untukku sarapan. Aku ingat kita beradu ego perihal aku maunya kamu menyayangiku. Padahal kamu sudah bosan bahkan enggan untuk menyayangiku. Read more