Short Story
Full of short story content
-
Jika aku menghilang, siapa yang hendak berusaha mencariku di sela-sela bebatuan, rerumputan, hingga di kerumunan? Ketika aku menghilang, siapa yang paling sesak nafasnya, terisak tangisnya, hingga lebam kelopak matanya menahan air mata? Aku bingung jawabannya, sebab aku angin bisa dirasakan namun tak ada wujudnya, yang bisa dihirup tanpa disadari, yang tidak bisa didengar walaupun berbisik. Read more
-
Ku bukalah bajumu,Kau Bukalah bajuku,Berilah sebuah tandayang permanen di dada Tiada kata terucapHanya suara mengecupBerikanlah sebuah tandaYang terindah di dada Kini dirimu menjadi milikkudan aku menjadi milikmuTanda di dada menjadi pertanda Read more
-
Jika nanti aku tak lagi denganmu, jangan hapus memori dari pikiranmu. Sebab, aku pernah ada untukmu, mungkin waktu saja yang tak berpihak kepada kita. Jika nanti aku memelukmu dengan erat, jangan segera melepaskannya. Sebab, dirimu adalah setengahnya diriku, mungkin karena aku lebih takut kehilanganmu. Jika nanti aku jahat denganmu, pukullah hatiku dengan senyum dibibirmu itu. Read more
-
Gugurlah sudah bunga sakura yang pernah mekar. Setiap kelopak menghantar cerita panjang indahnya hari itu. “Biarkanlah aku terpisah darimu wahai tangkai, aku ingin kebebasanku.” Read more
-
Apalah daya, aku bukanlah seperti yang dirimu harapkan. Ingin segera menjauh darimu, namun dirimu tetap menginginkanku dengan harapan itu. Apakah aku bisa menjadi sempurna setelah harapanmu itu terkabul? Bukankah itu semua karena egomu yang tak bernalar dan berlogika? Bahwa takkan ada yang bisa menjadi sempurna atas keinginan yang menghancurkan jiwa dan raga. Seperti aku mengingkanmu Read more
-
Begitu sibuknya hari ini, ibu, bapak, hingga kakakku bertemu dengan orang-orang yang mereka kenal. Saling bersalaman meminta maaf. Kalau aku? Aku ga begitu dekat dengan siapa-siapa disini di kampung halamanku. Mungkin orang tuaku hanya menyampaikan bahwa ada satu anaknya lagi. Tapi orang lain mana mungkin penasaran denganku? Mungkin kalau aku meninggal nanti, bahkan orang-orang yang Read more
-
Ketika ku lahir, jiwa ku utuh. Melihat, mendengar, dan merasakan kebersamaan sebuah keluarga di tempat yang begitu hangat bernama rumah. Sekian tahun berjalan, ketika aku mulai memahami apa itu rumah dan jiwa yang utuh, setelah itu setengah jiwa ku pergi. Meninggalkan apa yang aku sebut rumah. Perlahan di setiap sudut rumah ada hanya haru, meninggalkan Read more
-
Bangun tidur dalam keadaan tubuh tak bisa bergerak, mata hanya bisa melihat kedepan, kaku seakan terpaku dalam kasur yang rasanya seperti kayu. Aku terkejut, ketika kusadar kini aku sudah 30 tahun. Wajah masih terlihat kencang seperti 3 menjadi 2. Namun tubuh hanya bisa merintih seperti tertindih. Kini aku sadar, masa-masa 3 menjadi 2 adalah saatnya Read more
