Sakura Story

Kisah dan Puisi yang Bersemi dalam Sakura

  • Pintu Perpisahan

    Termenung, terbuka Teriris, terluka Menangis, berduka Tertawa celaka. Terbanglah bebas Mengudara dengan luas Engkau hendak lepas Aku terdiam melepas. Read more

  • Senin

    Siapa sangka senin akan menjadi hari awal yang cukup menakutkan. Hal-hal baru akan datang, kebahagiaan berakhir, hanya ada beban yang semakin bertambah. Senin ini, bukannya aku takut. Tapi, ada perasaan yang mengganjal karena akan ada perubahan yang terjadi. Sedih, lebih tepat. Bagaimanapun, semua itu perlahan dihadapi. Namanya juga hidup kan? Read more

  • Menghiasi

    Belajar menghiasi ruanganku, menghidupkan kehidupan yang mencekam. Mencekam diterkam sepi. Kini, sepi menghiasi, tidak mencekam malah memelukku dengan erat seraya bahagia. Read more

  • Beban

    Semakin besar badanmu, menggeser-geser semua orang sekitarmu. Tapi, tak kah kau mengira engkau beban? Kau rakus, memakan semua yang kau bisa makan. Kau merebut semuanya, bahkan kau tak pernah puas dengan apa yang kamu makan. Pertanyaanku, mau sampai kapan? Read more

  • 826

    Sendiri, memikirkan apa yang terjadi baru-baru ini. Aku terhanyut oleh pernyataan tertulis, bahwa semua ini akan menjauh dan pergi. Aku takut, aku sedih dan aku hanya bisa berharap jika pertemuan berikutnya lebih baik. Read more

  • Perjalanan

    Tiap jalan yang kupandang, keberadaanmu mengiringi. Hembusan angin jalanan, mengelus tubuhku olehmu. Satu persatu angin menyapaku, membisikkan cintamu padaku. “Ahh, sejuk sekali” katamu. Aku mengecup dinding-dinding debu, yang menemaniku seraya dipeluk erat olehmu. Read more

  • Kamera

    Senyummu terekam, Terabadikan hidupmu. Malam tak terlihat Namun dirimu tersorot. Kembali terekam Geliat lucu hidupmu, Sejenak ku melihat. Read more

  • Pintu Rumah

    *tok tok* Aku mengetuk pintu rumahmu, berharap engkau membukanya dan memberi senyummu. *tok tok* Aku berharap kali ini engkau membukanya dan memberiku sedikit senyum manismu. *tok tok* Ini yang terakhir, aku berharap engkau membukanya dan memberiku senyum. Read more

  • Kacamata

    Terlihat jelas kini, pandanganku terhadapmu. Yang kian hari semakin jelas semakin buruk. Kulihat kebohonganmu, kulihat kepiawaianmu dalam menusuk hati makhluk. Terlihat air matamu yang mengering, memohon padaku untuk tetap. Tidak, meskipun kau mengerang dan mengaum padaku, takkan goyah hatiku. Karena semua sudah terlihat jelas. Read more

  • Layar

    Bersinar terang, memancarkan bagaimana harusnya aku bekerja. Menekan tombol-tombol pintasan rupanya tak membuat pekerjaan lebih mudah ataupun lebih cepat. Aku kembali menatap layar, muncul sebuah pop-up notifikasi tambahan pekerjaan. “Yasudahlah, aku harus bekerja bagaimanapun juga” Aku berkata dalam hati. Mungkin memang ini yang harus kulakukan, menatap layar 24/7. Read more