-
Termenung, terbuka Teriris, terluka Menangis, berduka Tertawa celaka. Terbanglah bebas Mengudara dengan luas Engkau hendak lepas Aku terdiam melepas. Read more
-
Siapa sangka senin akan menjadi hari awal yang cukup menakutkan. Hal-hal baru akan datang, kebahagiaan berakhir, hanya ada beban yang semakin bertambah. Senin ini, bukannya aku takut. Tapi, ada perasaan yang mengganjal karena akan ada perubahan yang terjadi. Sedih, lebih tepat. Bagaimanapun, semua itu perlahan dihadapi. Namanya juga hidup kan? Read more
-
Tiap jalan yang kupandang, keberadaanmu mengiringi. Hembusan angin jalanan, mengelus tubuhku olehmu. Satu persatu angin menyapaku, membisikkan cintamu padaku. “Ahh, sejuk sekali” katamu. Aku mengecup dinding-dinding debu, yang menemaniku seraya dipeluk erat olehmu. Read more
-
*tok tok* Aku mengetuk pintu rumahmu, berharap engkau membukanya dan memberi senyummu. *tok tok* Aku berharap kali ini engkau membukanya dan memberiku sedikit senyum manismu. *tok tok* Ini yang terakhir, aku berharap engkau membukanya dan memberiku senyum. Read more
-
Terlihat jelas kini, pandanganku terhadapmu. Yang kian hari semakin jelas semakin buruk. Kulihat kebohonganmu, kulihat kepiawaianmu dalam menusuk hati makhluk. Terlihat air matamu yang mengering, memohon padaku untuk tetap. Tidak, meskipun kau mengerang dan mengaum padaku, takkan goyah hatiku. Karena semua sudah terlihat jelas. Read more
-
Bersinar terang, memancarkan bagaimana harusnya aku bekerja. Menekan tombol-tombol pintasan rupanya tak membuat pekerjaan lebih mudah ataupun lebih cepat. Aku kembali menatap layar, muncul sebuah pop-up notifikasi tambahan pekerjaan. “Yasudahlah, aku harus bekerja bagaimanapun juga” Aku berkata dalam hati. Mungkin memang ini yang harus kulakukan, menatap layar 24/7. Read more
