prosa
-
Tak bisa ku berbohong tentangmu, akupun tak bisa berbohong tentangku. Namun, ia mulai bermain peran, seakan aku baik, seakan aku jahat. Seakan dunia ini hanya bertemu denganku, dengan semua kebohongan yang mereka buat tentangku. Aku bukan penulis skenario, aku hanya berperan sebagai aktor utama yang miris nan menyedihkan. Drama dibuat dan takkan berhenti sampai semua… Read more
-
Dalam kisahku yang ditutup oleh kesedihan. Tinggal berapa halaman lagi yang kubutuhkan untuk menjadikannya kebahagiaan? Apakah dalam halaman terakhirku berkesan untuk siapapun yang membacanya? Atau mungkin hanya akan bersenada dengan yang mau saja? Setidaknya harapan kecil itu bisa terkabul.. Read more
-
Bukannya aku takut untuk mencintaimu, tapi apalah dayaku yang hanya seorang yang tak memiliki apapun. Aku tak tau apa yang kau mau, sehingga aku tak bisa memenuhi apa itu. Sialnya aku, jatuh hati padamu begitu dalam. Tak bisa kulihat dirimu hanya sebagai teman. Lalu, aku diharapkan untuk mencintaimu. Sayangnya aku masih takut. Selalu takut. Read more
-
Diwaktu dirimu memakai apron, terlihat begitu anggun. Bahkan aku merasa tersipu, padahal dirimu tak mengucap apapun. Aku mencintai apapun tentang dirimu, bahkan kamu terdiam pun aku tetap mencintaimu. Andai, kita bisa bercakap, meminum minuman favorit kita. Ku yakin itu waktu yang sangat berharga, bahkan selamanya kuharap begitu. Read more
-
Lihatlah lukisan itu, terlihat seperti dirimu. Pasti kamu pun tak melihatnya, karena aku melihatnya seperti kamu yang bahkan kamu pun belum tentu melihat dirimu. Aku suka lukisan itu, sepertimu tapi bukan kamu. Aku ingin memilikinya tapi tak mungkin. Karena lukisan ini hanyalah hiasan. Iya sih hiasan, toh dia dipajang saja sudah membuat hatiku mencintainya. Read more
-
Kerlip cahaya yang kian padam, sunyi menghimpit begitu keras sehingga membuatku sesak sekarat. Saat resah gelisah menari di dalam dadaku, membuat hatiku seakan meledak. Hanya tenang, bukan sunyi yang kudambakan. Pelukanmu itu yang membuatku tenang. Tapi angan hanyalah angan, layaknya angin berhembus dingin walau tak ingin terasa dingin. Begitulah sunyi, terkadang sering datang seperti tetangga… Read more
-
Dalam tatapanmu, hendak meminta tolong. Seakan semua begitu melelahkan hingga akhirnya matamu tak sanggup lagi menahannya. “Teriaklah” sebenarnya hatimu sudah teriak namun tak ada yg bisa didengar. Hanya sekilas terpancar dari matamu. Takut dilawan, takut tertindas. Read more
-
Tatkala langit gelap, dikarenakan pertemuan keduanya. Engkau berlutut berharap, akan pengampunan-Nya. Seakan takut inilah akhir dunia. Dimana dosa yang kau miliki begitu berlimpah. Engkau bertobat, takut akan siksaan yang dijanjikan. Dalam hati bergumam “Ya Tuhan, rahmatilah aku dengan kasih sayang-Mu, masukkanlah aku ke surga-Mu. Aku takut akan siksaanmu, Engkaulah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Read more
-
Tak kunjung hilang dirimu dalam benakku. Dirimu pergi meninggalkan sepucuk surat, berisi tentang perjalanan kita. Gimana kabarmu disana? Semoga kamu mendapat yang terbaik. Read more
