Lalu aku melihat sepijar cahaya, merintis kearahku seraya memanggilku dalam nestapa. Mengenggamnya saat dekat, mendekapnya dalam pelukan. Lalu, aku memasukkannya dalam hati, lembut dan manis layaknya cheesecake yang masuk ke dalam mulut.
Kini, aku menyukainya lebih dalam, terteguk setetes air dari oasis yang penuh dahaga. “Ahh, Nikmatnya” Ujarku. Aku sempat bertanya, apakah ini nyata? Sebab kini ia menyatu dari cahaya bersama air. Wujud apakah itu yang ada di dunia ini?
Nanti, aku takkan melepaskannya. Aku biarkan orang lain melihatnya, tapi takkan kuizinkan menyentuhnya. Menjaganya tak hilang dan tidak tumpah adalah batu kali yang menancap dibahuku.
Lalu, kini dan nanti. Aku bersyukur mendapatkannya.
Tinggalkan komentar