prosa
-
Mati tak dihindari, sebagaimana kematian adalah hal yang pasti dalam makhluk hidup. Aku akan mati, kamu akan mati, dia akan mati dan mereka pun akan mati. Pertanyaanku, mengapa takut mati? Kenapa banyak yang takut akan kepastian tersebut, bukankah seharusnya kita butuh kepastian? Apa karena kepastian itu datangnya mendadak? Atau apakah justru kita takut akan yang… Read more
-
Segala yang dibenci dilakukan, membuktikan bahwa Tuan tidak pilkasih. Sebab, ia seringkali terlihat mencintai yang lain daripadaku. Biasanya tuan selalu memberiku sedikit pelajaran dan pengertian atas perbuatanku, namun kini Tuan acuh. Ia bersikap seolah sudah lelah memberiku makan sebab aku tak pernah kenyang dan selalu meminta lagi. Aku bertanya “Tuan, mengapa engkau tak lagi memperhatikanku?… Read more
-
Malu adalah pakaian yang kukenakan saat bertemu denganmu. Sebab di tanganku, tak ada kilau perhiasan— tak ada yang bisa kutaburkan, seperti yang dihiasi para tetangga. Di sini, aku merancang kebahagiaanmu; mencari cara untuk membeli petak harapan, mendirikan atap yang kokoh, mempersembahkan kilaunya, dan menempuh jalan bersama. Lisanmu tak pernah bilang tak bahagia di sisiku, namun… Read more
-
Terhirup wangi dari angin yang dihempas saat berlari. Terlihat kegelisahan hadir disekujur aromanya. Satu lift bersama menuju lantai yang berbeda. Hanya kita berdua, ia berulang kali menatap waktu yang berada dipergelangannya. Namun wanginya sudah tersimpan dalam lift yang kita pijaki. Harumnya berkembang-biak di hidungku bahkan hingga ke paru-paruku. Pintu lift terbuka, ia bergegas menuju ruangannya,… Read more
-
Lalu aku melihat sepijar cahaya, merintis kearahku seraya memanggilku dalam nestapa. Mengenggamnya saat dekat, mendekapnya dalam pelukan. Lalu, aku memasukkannya dalam hati, lembut dan manis layaknya cheesecake yang masuk ke dalam mulut. Kini, aku menyukainya lebih dalam, terteguk setetes air dari oasis yang penuh dahaga. “Ahh, Nikmatnya” Ujarku. Aku sempat bertanya, apakah ini nyata? Sebab… Read more
-
Terkurung dalam abstrak, terhimpit oleh kegelapan. Penglihatan tertuju satu titik, gelap tergelap. Mendistorsi saraf yang ada, seakan ingin bebas dalam kegelapan. Padahal, semakin bebas semakin mati dalam harapan. Terkungkung dalam dinasti kekhawatiran, bagai ditelan makhluk mitologi. Yang kian menggerogoti alam pikiran. Read more
-
Isinya harap, sebab hanya itu jika berpikir tentang nanti. Nanti, kita akan selalu bergandeng tangan. Nanti, kita akan selalu menguatkan. Nanti, kita harus jaga senyuman. Nanti, kita harus tetap nyaman. Sebab, aku tak menuntutmu lebih. Kamu pun tak menuntutku lebih. Kita harus sabar saat menyiram pohon yang kelak akan tumbuh dan berbuah manis. Nanti tak… Read more
-
Kamu yang kurindukan, cerita yang ingin selalu kudengar, senyum yang ingin selalu kulihat, dan tanganmu yang selalu ingin ku genggam. Mentari berpijar, mengirim suara jika aku dan kamu seirama. Bahkan wajah bantalmu sudah muncul di layar gawaiku. Menjalani rutinitas, aku dan kamu ibarat stapler dengan staples. Aku butuh kamu dan kamu pastinya butuh aku, ya… Read more
