prosa ahsae
-
Setiap hari menggigil akibat ulahmu yang bodoh itu. Bisa-bisanya dirimu pergi lalu datang kembali. Kamu pikir aku loker? Hanya menaruh barang lalu pergi begitu saja meninggalkan barang itu? Bahkan jika aku loker mengapa kamu tak mengunciku? Emangnya boleh membiarkan barangmu agar dicuri orang lain? Dasar makhluk tak bertanggung jawab. Membiarkan aku tersimpan namun kau tinggal Read more
-
Tak sanggup menatapmu, perlahan semakin berjarak. Cinta yang ku kira akan berakhir dalam bahtera kehidupan, aku, kamu dan anak kita. Kamu menjauh, seperti hilangnya bayangan dari cahaya, habisnya benang saat menjahit. Sampai ku mengira dirimu menyatu dengan bayangan ketika matahari tepat diatas kepala. Sudah saatnya merelakan, cinta yang tak tumbuh, cinta yang habis dan cinta Read more
-
Genting! Genting! Gimana kalau jadinya aku ga naik kelas gara-gara ujian matematika ini? Ahhh Andai saja kisi-kisi itu ada aku pasti ngga akan sepusing ini, ngerjain ujian. Tapi, gitu juga ngga sih dalam kehidupan? Seandainya ada kisi-kisi jawaban ujian pasti aku bakal lebih mudah menghadapi hidup. Read more
-
Memelukmu, mengucapkan salam perpisahan.Akhir yang tak terduga, melepasmu dari kehidupanku.Senja yang tersamar malam yang akan hadir.Setiap langkah menginjak duri kenangan,Masih tajam terasa di ingatan. Hujan menyambut tangisku,Tersamar air matakuMelepasmu adalah kematianku Read more
-
Diantara tiga pilihan, kalian memilih yang tengah. Tak bisa baca, bahkan menganalisis sebuah kata. Bagaimana kita bisa rangkul, jika kalian lebih suka memukul.Bahkan kalian tak mengerti kata perubahan,lebih suka keberlanjutan. Sebelumnya sudah hancur, lanjut hanya akan melebur58 persen bukan angka kecil, kalian lah mayoritas abstrak.Tak paham esensi hingga akhirnya terkena efisiensi.Dasar mayoritas, tak paham bahwa Read more
-
Jam menunjukkan pukul 01:00. Menghela nafas panjang, agar semua beban di malam ini setidaknya lebih ringan. Aku mulai bertengkar dengan batinku, seakan ini adalah dialog antar ego dan alter ego. “Kamu ini sudah tua, kenapa masih saja bermain-main? Lihatlah teman seumuranmu sudah bahagia dengan keluarga kecilnya” “Kamu yakin mereka bahagia? Bagaimana jika yang terlihat hanya Read more
-
Kudengar ada yang menyebutmu dalam sebuah gurau. Kuperhatikan dengan sesama sayup-sayup kata yang keluar dari bibir mereka. Namamu begitu indah dibibir mereka. Diriku semakin bergusar. Mendengar dan membaca sayup-sayup itu. Tak lama, mereka diam. Tersenyum seperti akhirnya mendapat kesepakatan dalam pembicaraannya. Terlihat ada yang membawa bunga diantara mereka. Dengan indahnya, dirimu berjalan dari lorong terlihat Read more
-
Jika dirimu bertanya, mengapa aku tidak tidur cepat. Aku sedang memikirkanmu dalam sepi, sebab aku tak mampu menemuimu. Aku sedang merencanakan bagaimana cara agar aku bisa mewujudkan keinginan kita, sebab itu adalah rencana mulia. Aku sedang mengingatmu dalam setiap senyum dan langkah kaki mungilmu itu, sebab segala kenangan denganmu adalah waktu yang tak bisa ku Read more
-
Aku yang terdiam dalam dalam rangkaian malam yang panjang, memandang putihnya atap rumah yang berbisik omong kosong. Ah, lelahnya aku menaiki tangga kehidupan ini. Kapan selesainya semua skenario bualan ini. Jika hanya ada Aku, maka aku akan memilih tenggelam daripada menunggu Hawa datang diciptakan. Read more
