prosa sakura story
-
Sudah memasuki bulan dimana merah terlihat diujung mata. Kegembiraan nampak mulai berkurang dari Agustus sebelum-sebelumnya. Bulan dimana perjuangan sipil begitu gagah, tapi itu dulu. Kini sipil lesu, akibat ada yang ingin menjadi pahlawan. Bukan memerdekakan, tapi melahirkan ketakutan baru. Menyadari bahwa sipil masih dijajah. Oleh tikus yang ada di istana. Read more
-
Mau bagaimana, cara dapet duit hanya dari bekerja. Dia minta rumah, sedangkan rumah di sini harganya mahal-mahal, diajak ngontrak aja gamau karena ngga ada prestige apa-apa. Terus, kita mesti apa? Mencari uang sampai mati demi prestige atau kenyamanan hidup? Kata mamah kalo cari wanita jangan yang kebanyakan nuntut, emangnya dia korban nuntut-nuntut? Kan kalian jalan Read more
-
Jika aku menghilang, siapa yang hendak berusaha mencariku di sela-sela bebatuan, rerumputan, hingga di kerumunan? Ketika aku menghilang, siapa yang paling sesak nafasnya, terisak tangisnya, hingga lebam kelopak matanya menahan air mata? Aku bingung jawabannya, sebab aku angin bisa dirasakan namun tak ada wujudnya, yang bisa dihirup tanpa disadari, yang tidak bisa didengar walaupun berbisik. Read more
-
Ketika Malaikat Maut menjemputku dan bertanya “Sudah siapkah dirimu tersiksa di tempat yang tiada pengampunan kecuali rahmat dari Tuhanmu?” “Segala apa yang ditakdirkan untukku adalah rahmat dari Tuhanku, biarkanlah aku tersiksa jika memang itu kehendak Tuhanku” jawabku. Read more
-
Tak sanggup menatapmu, perlahan semakin berjarak. Cinta yang ku kira akan berakhir dalam bahtera kehidupan, aku, kamu dan anak kita. Kamu menjauh, seperti hilangnya bayangan dari cahaya, habisnya benang saat menjahit. Sampai ku mengira dirimu menyatu dengan bayangan ketika matahari tepat diatas kepala. Sudah saatnya merelakan, cinta yang tak tumbuh, cinta yang habis dan cinta Read more
-
Genting! Genting! Gimana kalau jadinya aku ga naik kelas gara-gara ujian matematika ini? Ahhh Andai saja kisi-kisi itu ada aku pasti ngga akan sepusing ini, ngerjain ujian. Tapi, gitu juga ngga sih dalam kehidupan? Seandainya ada kisi-kisi jawaban ujian pasti aku bakal lebih mudah menghadapi hidup. Read more
-
Senyum perpisahan itu begitu teringat, dikala pertemuan pertama kita berakhir. Aku mengantarmu ke peron terakhir, nampaknya disini hanya ada kita. Angin malam yang menghembus dihantar oleh suara pengumuman kereta terakhir malam ini. “Terimakasih untuk hari ini, ya” ucapnya tersenyum lebar Aku hanya mengganggukan kepala, sebab aku terbisu bahagia. Suara bising kian mendekat, kereta terakhir akhirnya Read more
-
Dalam percakapan di dalam kafe, sepasang kekasih beradu mulut. Gebrakan lantang dari meja, mereka menghiraukan minuman yang terjatuh akibatnya. Itu semua perkara bosan. Katanya dulu begini sekarang begitu. Dulu ucapan cinta terucap, sekarang cinta hanya sekedar ingatan. Dulu lembut tuturmu, sekarang menusuk setiap katamu. Dulu tubuhmu memelukku hangat, sekarang sikapmu mendingin. Jika kita sebuah kapal, Read more
-
Jam menunjukkan pukul 01:00. Menghela nafas panjang, agar semua beban di malam ini setidaknya lebih ringan. Aku mulai bertengkar dengan batinku, seakan ini adalah dialog antar ego dan alter ego. “Kamu ini sudah tua, kenapa masih saja bermain-main? Lihatlah teman seumuranmu sudah bahagia dengan keluarga kecilnya” “Kamu yakin mereka bahagia? Bagaimana jika yang terlihat hanya Read more
